Dari Pesantren untuk Masa Depan Khatamun Nabiyyin dan BSI Bersinergi Tingkatkan Literasi Keuangan serta Investasi Emas Syariah

Jakarta53 Dilihat

Jakarta Timur–Suasana pagi itu berbeda dari biasanya di Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin, Condet, Jakarta Timur. Deretan santri dan pengurus duduk rapih di auditorium Pesantren, bukan untuk mengaji kitab kuning seperti hari-hari biasanya, melainkan untuk menyimak sesuatu yang selama ini jarang menjadi perbincangan dalam lingkungan Pesantren.

Sabtu, 09 Mei 2025, Bank Syariah Indonesia (BSI) Kantor Cabang Pembantu (KCP) Condet hadir membawa satu misi sederhana namun bermakna dalam menjembatani nilai-nilai Islam yang sudah lama diajarkan di pesantren dengan praktik keuangan syariah modern. Melalui program literasi keuangan dan edukasi investasi emas syariah, sinergi ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, melainkan juga incubator generasi Muslim yang melek finansial.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2024 mencatat, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia masih berada di angka 65% angka yang terlihat cukup, namun menyimpan keprihatinan mendalam ketika dicermati persegmen. Di kalangan komunitas pesantren dan pedesaan, angkanya diyakini jauh lebih rendah. Banyak santri lulus dengan hafalan Al-Qur’an yang sempurna, tetapi tak tahu cara membuka rekening tabungan yang benar, apalagi memahami instrumen investasi syariah seperti emas.

Inilah celah yang coba diisi oleh BSI KCP Condet. Bukan dengan pendekatan formal perbankan yang kaku, melainkan dengan bahasa pesantren hangat, kekeluargaan, dan berakar pada nilai-nilai Islam yang sudah akrab di telinga para santri.

“Kami ingin hadir bukan hanya sebagai bank, tapi sebagai mitra tumbuh bagi pesantren dan santrinya. Literasi keuangan syariah ini adalah investasi jangka panjang bukan hanya untuk tabungan, tapi untuk mentalitas dan cara pandang generasi muda dalam mengelola rezeki yang diamanahkan Allah kepada mereka,”ungkap Kepala KCP BSI Bapak Baihaki.

Pernyataan itu bukan sekadar basa-basi korporat. Di balik layar, tim BSI KCP Condet telah menyiapkan modul edukasi yang disesuaikan dengan konteks pesantren mengaitkan konsep riba, muamalah, dan akad syariah dengan produk-produk keuangan yang nyata dan bisa diakses oleh santri maupun wali santri. Wakil Pimpinan Satu Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin menyambut kehadiran BSI dengan tangan terbuka. Baginya, kolaborasi ini adalah perwujudan dari cita-cita pesantren yang selama ini ia emban yaitu mencetak generasi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga cakap secara sosial dan ekonomi.

“Islam mengajarkan kita untuk tidak hanya pandai beribadah, tapi juga pandai bermuamalah. Selama ini santri kami sangat kuat di ilmu agama, tapi kami sadar mereka juga perlu dibekali dengan pemahaman ekonomi syariah agar kelak tidak mudah terjerumus ke dalam transaksi yang tidak halal,”ungkap Ustaz Ajid Salim, S.Pd. Wakil Pimpinan Satu Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin.

Materi yang disampaikan meliputi pengenalan produk tabungan dan giro syariah, cara kerja akad wadiah dan mudharabah, serta yang paling menyita perhatian para peserta sesi tentang investasi emas syariah melalui platform BSI Emas. Para santri tampak antusias saat mengetahui bahwa emas bisa dimiliki mulai dari nominal kecil, tanpa harus menyimpan fisik emas di rumah, dan seluruh mekanismenya telah sesuai dengan prinsip syariah yang difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional. Dibarisan peserta, seorang mahasantriwati. Sejak pagi, ia mencatat poin demi poin dengan teliti di buku kecilnya.

“Selama ini saya kira urusan harta dan ibadah itu dua jalan yang berbeda. Tapi ternyata menjaga harta dari riba, menumbuhkannya dengan cara yang halal itu juga bagian dari amanah yang harus kita tunaikan. Kalau kita biarkan harta kita tidak dikelola, kita bukan sedang zuhud, kita sedang lalai,”ungkap Nur Izza Khairunnisa Mahasntriwati Pesantren Khatamun Nabiyyin

Ungkapan Izza mencerminkan pergeseran cara pandang yang sesungguhnya ingin dicapai dari program ini. Bukan sekadar mengenalkan produk, tetapi membangun kesadaran bahwa mengelola harta dengan bijak adalah bagian dari ibadah, bukan semata urusan duniawi yang terpisah dari nilai-nilai pesantren.

Sejak berdiri, Pesantren Khatamun Nabiyyin telah melahirkan ribuan alumni yang kini tersebar di berbagai penjuru negeri ada yang menjadi ustaz, guru, wirausahawan, hingga pegawai pemerintah. BSI sendiri mencatat bahwa ekosistem pesantren adalah salah satu pasar yang paling potensial sekaligus paling terpinggirkan dalam inklusi keuangan syariah Indonesia. Dengan lebih dari 26.000 pesantren di seluruh tanah air, menjangkau komunitas ini bukan hanya strategi bisnis ini adalah tanggung jawab sosial dan keagamaan yang melekat pada identitas bank syariah terbesar di Indonesia.

“Pesantren adalah benteng moral bangsa. Jika kita bisa membantu santri memahami keuangan syariah sejak dini, kita tidak hanya membangun nasabah kita membangun generasi yang akan menjaga ekonomi ummat agar tetap berjalan di atas rel kehalalan dan keadilan.”

Tim Literasi Keuangan BSI kcp Condet

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab yang hangat dan pembukaan rekening tabungan syariah perdana bagi beberapa santri yang berminat. Senyum-senyum kecil terpancar dari wajah mereka bukan karena mendapat hadiah, melainkan karena untuk pertama kalinya, dunia keuangan terasa bukan lagi sesuatu yang asing dan menakutkan, melainkan sesuatu yang bisa mereka jamah, pahami, dan manfaatkan untuk kebaikan.

Dari Condet, sebuah ikhtiar kecil telah dimulai. Dan dari pesantren, masa depan ekonomi syariah Indonesia sedang ditulis satu santri, satu pemahaman, satu langkah pada satu waktu.

banner 970x250 banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *