Filsafat di Tengah Badai Teknologi: Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan

Jakarta29 Dilihat

JAKARTA–Di tengah arus deras kemajuan teknologi yang kian mendominasi setiap sendi kehidupan manusia, sebuah pertanyaan mendasar terus bergema: apakah manusia masih menjadi tuan atas peradabannya sendiri?

Menjawab kegelisahan itu, Pesantren Khatamun Nabiyyin bersama Khatam Institute menggelar Stadium Generale bertajuk “Peran Filsafat dalam Kehidupan Kontemporer: Antara Kemajuan Teknologi dan Krisis Kemanusiaan” pada Rabu, 13 Mei 2026, pukul 14.30 WIB hingga selesai, bertempat di Auditorium Khatamun Nabiyyin, Condet, Jakarta Timur.

Acara ini menghadirkan Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A., Guru Besar Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebagai narasumber utama. Sosok yang telah puluhan tahun menyelami lautan pemikiran filosofis ini dipandu oleh Muh. Agus Salim, S.Fil.I., M.A., Penanggung Jawab Khatam Institute, sebagai moderator.

Stadium Generale ini bukan sekadar forum akademik biasa. Ia hadir sebagai ruang refleksi tempat di mana nalar dipertajam, nurani disentuh, dan kesadaran dibangunkan. Di era ketika kecerdasan buatan mampu menulis puisi, melukis kanvas, bahkan meramal keputusan hukum, filsafat menjadi kompas yang tak boleh diabaikan.

Pertanyaan-pertanyaan besar pun mengemuka: Apakah teknologi membebaskan manusia atau justru memperbudaknya? Di mana letak martabat manusia ketika mesin mampu berpikir? Dan bagaimana peradaban Islam merespons tantangan ini dengan bijaksana?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan retorika kosong. Ia adalah cermin dari kecemasan kolektif yang diam-diam menghantui banyak orang di zaman ini ketika notifikasi lebih cepat dari renungan, dan algoritma lebih fasih membaca selera manusia ketimbang manusia memahami dirinya sendiri.

“Krisis kemanusiaan hari ini bukan karena manusia kekurangan teknologi, melainkan karena manusia kekurangan kebijaksanaan untuk mengendalikannya. Di sinilah filsafat menemukan kembali panggilannya.” — Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A.

Di sinilah filsafat menemukan kembali relevansinya yang paling dalam. Bukan sebagai ilmu yang menara gading, melainkan sebagai cahaya yang menerangi lorong-lorong gelap peradaban. Filsafat mengajak manusia berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya untuk apa semua ini?

Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A., yang dikenal luas dalam dunia akademik sebagai pemikir yang memadukan tradisi keilmuan Islam dengan wacana filsafat kontemporer, diharapkan mampu membawa peserta menyelami pertanyaan-pertanyaan itu secara jernih dan mendalam. Pengalamannya yang panjang di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadikannya bukan sekadar pembicara melainkan seorang penunjuk jalan di tengah rimba pemikiran yang semakin kompleks.

 

 

“Teknologi tanpa filsafat adalah pedang tanpa sarung, tajam, berguna, namun berbahaya di tangan yang tak memahami arah dan tujuannya.” — Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A., Guru Besar Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sementara itu, kehadiran Khatam Institute sebagai penyelenggara menegaskan komitmen pesantren dalam merawat tradisi berpikir kritis di lingkungan pendidikan Islam. Sebuah sikap yang sekaligus menjadi penegasan bahwa pesantren tidak berdiri membelakangi zaman melainkan berdiri di hadapannya, dengan bekal nilai dan keteguhan moral yang telah teruji berabad-abad.

“Pesantren bukan lembaga yang anti-kemajuan. Justru pesantren hadir untuk memastikan bahwa kemajuan itu tetap berwajah manusiawi dan berhati nurani.” — Muh. Agus Salim, S.Fil.I., M.A., PJ Khatam Institute

Forum ini pun terbuka seluas-luasnya untuk para santri yang baru mengenal dunia ide, untuk mahasiswa yang sedang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial, untuk para pendidik yang merindukan ruang refleksi, dan untuk siapa pun yang percaya bahwa berpikir adalah salah satu bentuk ibadah paling mulia.

“Stadium Generale ini kami hadirkan karena kami percaya bahwa generasi muda Islam harus mampu berdiri di dua kaki sekaligus: kaki ilmu pengetahuan modern dan kaki kearifan spiritual. Keduanya bukan pertentangan, melainkan kesatuan.” — Muh. Agus Salim, S.Fil.I., M.A.

Karena pada akhirnya, di balik setiap baris kode yang ditulis mesin, di balik setiap data yang diolah algoritma, ada manusia yang masih perlu dijaga kemanusiaannya. Dan menjaga kemanusiaan, sejak dahulu kala, adalah tugas filsafat yang paling hakiki.

 

banner 970x250 banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *