Polemik Hewan Kurban DPRD Dapil Halut–Morotai Dinilai Mencederai Makna Iduladha

Halmahera Utara67 Dilihat

TOBELO–Koordinator FORKOT, Oxstorus Seda melihat, Publik Halmahera Utara dan Pulau Morotai dihebohkan dengan narasi yang berkembang di tengah masyarakat bahwa dari sembilan anggota DPRD Maluku Utara Dapil Halut–Morotai, hanya Aksandri Kitong yang disebut berkurban pada momentum Hari Raya Iduladha. Narasi tersebut kemudian menyebar luas dan memunculkan kesan seolah anggota DPRD lainnya tidak memiliki kontribusi terhadap masyarakat pada momentum keagamaan tersebut.

Namun di tengah berkembangnya informasi itu, muncul nama Aurelia Indah Mole yang ikut menyalurkan hewan kurban kepada masyarakat. Sayangnya, kehadiran bantuan tersebut kembali memunculkan polemik baru setelah beredar anggapan bahwa hewan kurban yang disalurkan merupakan bantuan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, bukan bentuk kurban pribadi. tambah Ox

Menurut Ox, sapaan akrab Oxtorus, bahwa dinamika yang berkembang saat ini telah bergeser jauh dari substansi dan makna suci Hari Raya Kurban. Momentum keagamaan yang seharusnya menjadi ruang memperkuat solidaritas sosial dan nilai pengorbanan justru terjebak dalam narasi saling membandingkan pencitraan dan kompetisi politik yang tidak sehat.

Masyarakat tidak boleh disuguhi pertarungan opini mengenai siapa yang paling banyak berkurban atau siapa yang paling layak mendapatkan pengakuan publik.
“Hari raya kurban bukan panggung politik dan bukan arena adu popularitas. Ketika bantuan sosial mulai diperdebatkan demi membangun citra, maka nilai keikhlasan dalam ibadah itu sendiri mulai hilang,” tegas Ox

Ox juga menambahkan, saya selaku umat Kristiani dan dua anggota DPRD tersebut juga umat Kristiani mau mengingatkan, bahwa dalam ajaran Alkitab, nilai memberi tidak pernah diukur dari seberapa besar pengakuan yang diterima manusia.

“Dalam Injil Matius 6:3 tertulis. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.l,”ujarnya.

Menurut Ox, Ayat tersebut mengandung pesan moral bahwa setiap bentuk kebaikan, bantuan sosial, maupun pengorbanan hendaknya dilakukan dengan ketulusan, bukan untuk dipertontonkan atau dijadikan alat memperoleh legitimasi politik.

Alhasil, Substansi utama Hari Raya Kurban adalah keikhlasan dalam memberi, kepedulian terhadap masyarakat kecil, semangat berbagi tanpa pamrih, pengorbanan demi kemanusiaan, persaudaraan dan persatuan sosial, serta menjaga kesucian momentum Idul Adha dari kepentingan pencitraan dan rivalitas politik praktis. tutup Kordinator FORKOT.

banner 970x250 banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *