Milad Muhammadiyah, Galela, dan Sang Pencerah

Oleh : Ahmad Ibrahim Jurnalis Senior

CATATAN379 Dilihat

Sabtu lusa, warga Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, akan kedatangan sejumlah tamu penting dalam rangka Milad ke-113 Muhammadiyah Maluku Utara.

Sebagaimana undangan yang beredar itu Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof.DR. Abdul Mu’ti, M.Ed dipastikan akan hadir sekaligus membuka secara resmi acara ini yang dipusatkan di Rumah Sakit MER-C.

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos dan juga Bupati Kabupaten Halmahera Utara Dr. Piet Hein Babua, M.Si, dijadwalkan juga akan hadir dan turut memberikan sambutan.

Acara akan diawali pembukaan Ketua Panitia Milad ke-113 Muhammadiyah Maluku Utara Dr.Kasman Hi. Ahmad, S.Ag, M.Pd yang juga dikenal sebagai Wakil Bupati Halmahera Utara yang akrab dipanggil Pak Kace itu. Lalu diikuti sambutan oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Maluku Utara Drs.Ishak Jamaluddin, M.Pd.

Kehadiran para pejabat penting di Galela ini tentu akan memberikan kesan positif. Tentu tak saja menyoal sejarah panjang perjalanan Muhammadiyah di Maluku Utara tempat dimana Galela menjadi pusat berdirinya Muhammadiyah sejak 1924 yang didirikan oleh seorang tokoh Galela bernama Imam Muhammad Amal, itu. Tapi, juga diharapkan bisa memberikan pembobotan seputar problem sosial, pendidikan, kesehatan, perhubungan laut, jalan, dan jembatan yang kini sedang dihadapi warga di ujung utara Pulau Halmahera.

Tampilnya Prof Mu’ti yang juga tak lain adalah Sekjen PP Muhammadiyah tentu akan memberikan nuansa berbeda. Dengan gaya dan joke-jokenya yang khas sekaligus humoris kehadiran Prof Mu’ti di Galela ini bisa menjadi “mata” dan “telinga” pemerintah pusauk mendukung dan mendorong percepatan akses pendidikan dan kesehatan di ujung utara Pulau Halmahera hingga di Kecamatan Loloda Kepulauan bisa berkembang dengan baik.

Kita tentu tak ingin jangan sampai hanya soal keterbatasan akses jalan dan jembatan yang selama ini kurang berpihak ke wilayah nun jauh itu sehingga membuat ada guru yang harus kehilangan nyawa karena terlambat penanganan medis akibat akses jalan dan jembatan yang terputus.

Kasus terbaru yang menimpa guru kita bernama Nery Palamea, S.Pd. Gr dari Desa Ngajam, Kecamatan Loloda Utara, yang bertarung nyawa setelah dirujuk ke RSUD Tobelo akibat terhalang jalan dan jembatan yang terputus bisa menjadi catatan. Karena terbentur oleh sarana jalan dan jembatan membuat penanganan medis sang pasien menjadi terhambat hingga menghembuskan nafas terakhir di perjalanan.

Kita juga tentu masih ingat tahun 2018 hanya soal akses perhubungan laut yang terbatas membuat siswa/siswi kita nun di Kecamatan Loloda Kepulauan yang hendak mengikuti simulasi Ujian Nasional (UN) ke ibukota Kabupaten Halmahera Utara di Tobelo yang berjarak sekitar 70 mil laut selama sehari semalam harus menghabiskan ongkos angkutan perahu/motor Rp 5 juta, dan harus berjibaku dengan ombak dan gelombang. Selain itu mereka juga harus berbaur dengan muatan ikan, barang, dan binatang serta hasil bumi.

Galela tentu adalah salah satu distrik nun di utara Pulau Halmahera selama ini kita tahu telah menorehkan sejarah panjang peradaban di tengah tantangan zaman yang telah dirintis oleh para penerus dari “Sang Pencerah” KH.Ahmad Dahlan, itu.

Sayang, di tengah tantangan tersebut kita juga menemukan begitu banyak problem yang dihadapi. Galela kini seolah menjadi wilayah “periphery” dengan tetangga kecamatan lainnya.

Jika saja di Halmahera Tengah Gubernur Sherly Tjoanda Laos telah memulai sebuah konsep prestisius pembangunan jalan yang menghubungkan antarkabupaten dengan nama: Trans Kieraha, maka di utara Pulau Halmahera sana juga perlu dipikirkan untuk dibuatkan akses serupa biar tak ada yang merasa ditinggalkan.

Kita tahu bahwa Galela punya dermaga laut yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2017 lalu telah dijadikan sebagai Pelabuhan Samudera untuk mendukung program Tol Laut sang presiden.

Melalui konsep Nawa Cita Presiden Joko Widodo ingin membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan untuk bisa menyentuh mereka yang ada nun di Maluku utara sebagai bagian dari garda terdepan Indonesia.

Sayang, niat baik itu tak diikuti oleh program dan perencanaan yang matang sehingga membuat akses perhubungan kapal dan motor dari dan antarpulau di bibir Samudera Pasifik ini seolah “mati gaya”.

Konsep pemberdayaan ekonomi dari dan untuk menghidupkan Galela sebagai wilayah pertanian, perkebunan, perikanan kini seakan “matisuri”.

Sebagai gerakan dakwah, komitmen Muhammadiyah terhadap khittah perjuangan dalam menegakkan prinsip amar ma’ruf nahi mungkar, dan kebudayaan di utara Maluku sejak berdiri tahun 1924 harus mengambil peran. Dan, melalui Milad ke-113 ini memperlihatkan bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang kokoh dalam mendorong kemajuan dan kemaslahatan umat.

Galela sebagai cikal bakal berdirinya Muhammadiyah di Maluku –19 tahun sebelum Indonesia merdeka– mestinya harus lebih memperkuat jati diri sebagai gerakan dakwah dan tetap menjadi ujung tombak pendidikan di ujung utara Pulau Halmahera.

Menghadapi situasi di tengah pasang surut dan hiruk pikuk politik Tanah Air Muhammadiyah kini telah memperlihatkan kematangannya.

Apa yang telah ditanamkan melalui pesan-pesan luhur oleh “Sang Pencerah” dan pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah dan Janganlah Mencari Penghidupan di Muhammadiyah,” semoga tetap berkesan di hati para pimpinan dan anggotanya untuk membesarkan amal usaha Muhammadiyah dimana pun mereka berada.

Kita doakan kepada para pendiri Muhammadiyah yang telah pergi mendahului kita semoga dilapangkan alam kuburnya serta dimaafkan segala salah dan khilafnya. Pun kepada mereka yang mencintai masa depan peradaban di daerah ini semoga bisa mendarmabaktikan ilmu dan pengalamannya untuk kemaslahatan umat.

Dan, di tangan duo putra terbaik dari Bumi Hibualamo Pak Kace dan Pak Ishak Jamaluddin yang juga sama-sama mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, itu dapat menjadikan kiprah Muhammadiyah yang selama ini identik dengan “Sang Pencerah” bisa lebih hidup di Jazirah Utara Pulau Halmahera.

Pun melalui Milad ke-113 Muhammadiyah serta hadirnya para pejabat penting di Galela Sabtu lusa ini bisa menjadi momentum sekaligus dapat melahirkan sejumlah gagasan penting bagi pemberdayaan pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan perhubungan di Jazirah Utara Pulau Halmahera sebagaimana visi Milad ke-113 Muhammadiyah: Memajukan Kesejahteraan Bangsa.

banner 970x250 banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *