CATATAN ini, bukan lahir dari seorang pengamat handal, yg terbiasa mengamati sepak terjang para pimpinan Parpol besar dlam dinamika perpolitikan nasional, ini semata refleksi kebanggaan plus keprihatinan sesama Kader Hijau Itam, dlm setiap situasi dan tempat selalu mencakapkan dan megamati posisi dan peran Bahlil dlm kancah politik nasional. Bgi sesama kader yg pernah berjuang, figur Bahlil menjadi kebanggan yg tak terukur pda semua lavel ijo itang, disitu poros prospektif bgi teman2 tuk mengatur dan berkontibusi terhdap perjalan negeri ini.
Sejak “diberikan” status sebagai Ketua Umum Golkar, sejak itupula Nama Bahlil Lahadalia berdiri di persimpangan kekuasaan. Di satu sisi, ia adalah produk politik dari era Joko Widodo, dibesarkan, diberi panggung, dan dipoles dalam orbit kekuasaan Jokowi. Di sisi lain, realitas politik telah berubah, Prabowo Subianto kini memegang kendali negara, dan semua aktor politik harus menyesuaikan arah loyalitasnya.
Di sinilah Bahlil memainkan satu strategi klasik dalam politik kekuasaan, berdiri di dua kaki.
_Pertanyaannya, apakah ini strategi cerdas untuk bertahan—atau justru awal dari kejatuhan yang pelan tapi pasti ?_
Dalam sejarah politik Indonesia, posisi “di antara dua poros kekuasaan” bukan hal baru. Banyak aktor mencoba menjadi jembatan penyeimbang tapi tidak sedikit yang akhirnya terjebak di tengah, kehilangan kepercayaan dari kedua sisi. _Politik bukan sekadar soal keseimbangan, tapi soal ketegasan membaca siapa yang benar-benar menjadi pusat gravitasi kekuasaan._
Bahlil tampaknya memahami ini. Sebagai Ketua Umum Golkar, ia tidak mungkin berada di luar orbit kekuasaan Partai Golkar yang sejak lama dikenal sebagai partai paling adaptif terhadap perubahan rezim. Golkar bukan partai ideologis kaku; ia adalah mesin politik yang hidup dari kedekatan dengan kekuasaan. Dan sebagai nakhoda, Bahlil dituntut memastikan kapal itu tetap berada di jalur aman.
Namun, masalahnya bukan di situ.
Masalahnya adalah persepsi.
Di mata sebagian elite, posisi Bahlil bisa dibaca sebagai bentuk kehati-hatian. Tapi di mata yang lain, ini bisa dianggap sebagai oportunisme. Dalam politik, persepsi seringkali lebih mematikan daripada realitas. Ketika seorang pemimpin dianggap tidak memiliki garis loyalitas yang jelas, maka kepercayaan mulai terkikis—perlahan tapi pasti.
Apalagi, hubungan antara Jokowi dan Prabowo bukan sekadar hubungan personal, melainkan juga persilangan kepentingan politik jangka panjang. Di titik tertentu, garis itu bisa menegang. Dan ketika itu terjadi, tidak ada lagi ruang nyaman bagi mereka yang mencoba berdiri di tengah.Bahlil sedang bermain di wilayah berisiko tinggi.
Jika ia terlalu lama mempertahankan posisi “dua kaki”, ia berpotensi kehilangan momentum untuk membangun basis kekuasaan yang solid. Sebab dalam politik, kekuasaan tidak hanya dibangun dari akses, tapi juga dari kejelasan posisi. Orang mengikuti pemimpin yang jelas arah dan keberpihakannya, bukan yang terus-menerus menimbang.
Di sisi lain, jika ia terlalu cepat menegaskan keberpihakan ke salah satu kubu, ia juga berisiko memutus jaringan yang selama ini menjadi fondasi kekuatannya. Ini adalah dilema klasik: bertahan dengan risiko dicurigai, atau memilih dengan risiko kehilangan.
Namun satu hal yang pasti: waktu tidak pernah netral dalam politik.
Semakin lama seorang aktor berada dalam posisi ambigu, semakin besar kemungkinan ia akan dipaksa oleh keadaan untuk memilih, bukan memilih atas kehendaknya sendiri, tetapi karena tekanan situasi. Dan ketika pilihan itu datang terlambat, seringkali harganya jauh lebih mahal.
Bahlil mungkin sedang menghitung dengan cermat. Ia bukan pemain baru. Ia memahami bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana jaringan dibangun, dan bagaimana momentum harus diambil. Tapi politik bukan hanya soal kalkulasi rasional; ia juga tentang persepsi, kepercayaan, dan timing.
Disinilah ujian sebenarnya.
Apakah Bahlil mampu mengubah posisi “dua kaki” menjai dstrategi transisi menuju kekuasaan yang lebih kokoh ? Atau justru ia akan terjebak dalam bayang-bayang dua kekuatan besar yang pada akhirnya membuatnya kehilangan pijakan?
Sejarah politik Indonesia menunjukkan satu pola yang berulang: mereka yang terlalu lama berdiri di dua kaki, pada akhirnya tidak berdiri di mana pun.Dan jika itu yang terjadi, maka strategi yang hari ini terlihat cerdas bisa saja besok dikenang sebagai awal dari kejatuhan.












