PARTISIPAN KE ARSITEK Comte – Durkheim dan Kado 98 tahun Sumpah Pemuda

Oleh : Muhammad Fajri. S. SOS., M.M., M.E (Penggiat Desa)

CATATAN, Kota Ternate107 Dilihat

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 membawa pesan optimistis bagi masa depan pembangunan nasional. Di tengah akselerasi teknologi dan dinamika ekonomi global, ikrar persatuan yang diwariskan para perintis bangsa kini menemukan momentum manifestasinya yang paling nyata, yakni penguatan kedaulatan ekonomi dari desa.

​Jargon “Tumbuhnya Harus Terasa” menghadirkan penanda komitmen moral yang sangat bernilai. Frasa ini menegaskan bahwa kebijakan pembangunan di daerah ini, tidak boleh hanya berhenti pada capaian angka-angka statistik makro di atas kertas saja. Sejatinya kebijakan peningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah bagai mana caranya mewadahi terciptanya kesejahteraan rakyat yang sejati, dan itu haruslah hadir dan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat di akar rumput.

Merujuk pada data statistik demografi, mayoritas kaum muda Indonesia saat ini tercatat tinggal dan beraktivitas di perdesaan. Realitas ini menjadi pijakan utama mengapa jargon “Tumbuhnya Harus Terasa” wajib diwujudkan secara konkret di tingkat lokal. Pertumbuhan ekonomi nasional tidak boleh hanya dirasakan oleh masyarakat perkotaan, melainkan harus berdampak langsung pada peningkatan taraf hidup serta pembukaan peluang kerja bagi generasi muda di desa melalui transformasi tata kelola ekonomi yang lebih rasional dan terarah.

​Transisi menuju tata kelola ekonomi desa yang lebih modern dan rasional tersebut dapat dipahami secara jernih melalui pemikiran sosiolog asal Prancis, Auguste Comte (1798–1857), tentang Hukum Tiga Tahap yang ia cetuskan pada kurun 1830–1842. Melalui kerangka pemikiran ini, jargon “Tumbuhnya Harus Terasa” menjadi ajakan transformatif untuk membawa tata kelola ekonomi desa keluar dari pola tradisional menuju tahap positif atau ilmiah.

​Pembangunan desa tidak lagi berjalan berdasarkan pola tradisional yang intuitif semata, melainkan berbasis pada perencanaan rasional dan pemanfaatan sains-teknologi. Di sinilah generasi muda mengambil peran strategisnya sebagai mitra konstruktif pemerintah. Pemuda hadir membawa literasi digital, penguatan daya saing produk lokal, serta modernisasi kelembagaan didesa secara terukur.

​Untuk aksi perubahan cara pandang positif ini membutuhkan struktur sosial yang saling mendukung. Mengutip dari tokoh Sosiolog klasik Émile Durkheim (1858–1917), melalui mahakaryanya The Division of Labour in Society pada tahun 1893, mengenalkan konsep Solidaritas Organik. Durkheim menekankan bahwa kemajuan masyarakat modern ditandai oleh pembagian kerja yang terspesialisasi dan saling melengkapi secara harmonis.

​Dalam kerangka Durkheimian ini, kolaborasi pemuda dan pemerintah merupakan sinergi dua pilar yang saling menguatkan. Pemuda berperan sebagai inovator, pencipta nilai tambah komoditas, dan penggerak pasar digital. Sementara itu, pemerintah bertindak sebagai fasilitator melalui penyediaan regulasi yang adil, pembangunan infrastruktur, serta kemudahan akses permodalan.

​Realisasi jargon “Tumbuhnya Harus Terasa” berakar pada keterlibatan aktif pemuda sejak tahap perencanaan hingga eksekusi program desa. Pengolahan potensi lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi akan membuka lapangan kerja baru. Langkah ini efektif menahan laju migrasi pemuda ke kota sekaligus meningkatkan pendapatan riil keluarga perdesaan.

​Jika pada 1928 pemuda mengikrarkan persatuan tumpah darah, bangsa, dan bahasa, maka pada Hari Sumpah Pemuda ke-98 ini ikrar tersebut bertransformasi menjadi semangat mewujudkan kesejahteraan merata. Sinergi berbasis pemikiran positif Comte dan solidaritas organik Durkheim adalah kunci utama merealisasikan pertumbuhan ekonomi desa yang benar-benar terasa manfaatnya bagi seluruh rakyat.

banner 970x250 banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *