Merawat Kepercayaan Dan Kohesi Sosial Dalam Tradisi Sosial Idul Fitri

Oleh : Muhammad Fajri, S. SOS,. M.M,. M.E

CATATAN, Kota Ternate214 Dilihat

TRADISI silaturahmi saat Lebaran merupakan fenomena antropologis yang unik, di mana ritual keagamaan bertransformasi menjadi panggung penguatan struktur sosial secara masif. Secara mendasar, silaturahmi berfungsi sebagai mekanisme restorasi sosial yang bertujuan untuk memperbaiki keretakan hubungan akibat konflik atau jarak.

Dalam pandangan antropolog Indonesia, Koentjaraningrat (1974), nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong yang menjadi akar kebudayaan kita menempatkan pertemuan tatap muka sebagai bentuk tertinggi dari pemeliharaan harmoni masyarakat. Hal ini sejalan juga dengan pendekatan dalam perspektif sosiologi modern. Aktivitas saling mengunjungi dan memaafkan, merupakan manifestasi nyata dari pembentukan Modal Sosial (Social Capital).

Merujuk pada pemikiran Robert Putnam (2000) dalam karyanya Bowling Alone, iya menyatakan bahwa silaturahmi dalam lebaran berperan sebagai “perekat sosial” (social glue) yang dapat menciptakan keterlibatan sipil dan kepercayaan antarindividu. Melalui interaksi seperti ini, masyarakat tidak hanya bertukar sapa, tetapi juga sedang memperkuat bonding (ikatan) di dalam keluarga inti serta membangun bridging (jembatan) dengan komunitas yang lebih luas, sehingga kohesi sosial tetap terjaga di tengah arus modernisasi.

Lebih jauh lagi, mengutip James Coleman (1988), iya menekankan bahwa modal sosial adalah sumber daya yang melekat dalam struktur hubungan. Lebaran menjadi momentum bagi setiap individu untuk menginvestasikan waktu dan energi demi menjaga struktur tersebut agar tetap utuh. Senada dengan pandangan J.Coleman, Pierre Bourdieu (1986) melihat bahwa jaringan hubungan yang dirawat saat Lebaran dapat dikonversi menjadi modal lain di masa depan, baik itu dukungan emosional maupun akses terhadap peluang ekonomi.

Pada posisi ini dapat kita ketahui bahwa silaturahmi bukan sekadar mengajarkan tentang etika saja, namun juga tentang strategi bertahan hidup dalam tatanan sosial yang kolektif. Silaturahmi hadir menjadi elemen krusial dalam pemulihan rasa percaya atau trust. Meminjam pemikiran Francis Fukuyama (1995) dalam bukunya Trust, bahwa kepercayaan adalah kebajikan sosial yang menjadi landasan kemakmuran sebuah bangsa.

Budaya sekaligus Ritual saling memaafkan di saat Lebaran secara antropologis berfungsi untuk menghapus beban masa lalu dan membangun kembali rasa percaya yang mungkin sempat luntur. Tradisi silaturahmi berfungsi sebagai sebuah sarana proses berkelanjutan dalam merawat modal sosial bangsa. Sikap ini dapat memastikan bahwa jalinan persaudaraan dan kekerabatan tetap menjadi aset paling berharga dalam menghadapi dinamika sosial yang kian kompleks ini.

Tradisi silaturahmi Lebaran bukan sekadar formalitas berjabat tangan, melainkan sebuah denyut nadi yang menjaga sisi kemanusiaan kita yang paling murni. Di ambang pintu rumah orang tua, kerabat dan sanak famili, di sela aroma wangi berbagai jenis kue dan masakan khas yang akrab, semua yang bertemu dan bersapa hampir dalam linangan air mata saat saling memaafkan. Potet seperti ini, secara positif kita sedang merajut kembali helai demi helai benang persaudaraan yang sempat koyak oleh ego dan rutinitas.

Tradisi ini adalah nyawa dan juga nadi kehidupan masayarakat yang berkebudayaan. Ia sebagai pengingat abadi bahwa di tengah dunia yang kian individualis, kita di Indonesia tetaplah melaksanakan praktek makhluk yang butuh untuk pulang, bukan sekadar pulang ke tanah kelahiran, tetapi pulang ke dalam pelukan kasih sayang dan ketulusan yang menjadi modal sosial paling hakiki dalam menjaga martabat peradaban kita.

banner 970x250 banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *