Kegelisahan Publik di Pikiran Sigmund Freud dan Al Ghazali

Oleh : Muchlis Tapi Tapi

KITA sedang menyaksikan politik yang bergerak cepat, tetapi tidak berpijak pada kedalaman batin masyarakat. Bnyak aktor yg sibuk mengelola emosi publik daripada merawatnya. Pemimpin sibuk merawat citra, menjaga image (jaim), agar cantik dicassing.
Dalam kondisi seperti ini, pendekatan *Sigmund Freud dan Al-Ghazali* menjadi relevan untuk membaca arah kegelisahan sosial yang kita alami.

_Freud melihat keresahan sebagai akibat konflik batin yang tidak terselesaikan_. Dalam konteks sosial-politik, ini tercermin pada masyarakat yang mudah marah, cepat curiga, dan reaktif terhadap setiap isu. Ketika informasi tidak jelas, ketika proses tidak transparan, maka “alam bawah sadar kolektif” publik dipenuhi ketakutan dan spekulasi.

Lihat bagaimana setiap peristiwa di daerah ini, begitu cepat berubah menjadi kegaduhan. Kasus hukum yang tidak terbuka memicu kecurigaan. Konflik sosial yang tidak dikelola sejak awal berkembang menjadi ketegangan yang lebih luas.
Dalam perspektif Freud, ini adalah gejala dari konflik yang ditekan, ketidakjelasan yang tidak diselesaikan, lalu muncul sebagai keresahan publik.

Namun Freud hanya berhenti pada satu hal, kesadaran. Ia percaya bahwa dengan memahami konflik, manusia bisa mengelolanya. Tetapi dalam realitas Maluku Utara, kesadaran saja tidak cukup.

Di sinilah _Al-Ghazali menawarkan sesuatu yang lebih dalam. Al-Ghazali tidak melihat keresahan hanya sebagai masalah pikiran, tetapi sebagai masalah hati_. Ketika hati jauh dari ketenangan, ketika nafsu kepentingan tdk tersalur atau ego tidak terkendali, maka yang muncul adalah kegaduhan.

Dalam politik daerah hari ini, kita melihat bagaimana emosi publik tidak hanya muncul secara alami, tetapi juga dipelihara. Isu identitas dimainkan, sentimen diperkuat, dan konflik dibiarkan berkembang. Ini bukan lagi sekadar kegagalan teknis, tetapi krisis etika struktural.

Jika Freud membantu kita memahami mengapa masyarakat menjadi gelisah, Al-Ghazali membantu kita memahami mengapa kegelisahan itu tidak pernah benar-benar reda. Karena yang dihadapi bukan hanya konflik informasi, tetapi juga kekosongan nilai.

Akibatnya, masyarakat hidup dalam dua tekanan sekaligus, ketidakjelasan informasi dan ketidaktenangan batin. Kombinasi ini berbahaya. Krn membuat masyarakat mudah terprovokasi sekaligus sulit percaya (distrust).

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka keresahan sosial di Maluku Utara tidak akan pernah selesai. Ia hanya akan berubah bentuk dari satu isu ke isu lain, dari satu konflik ke konflik berikutnya.Freud akan mengatakan buka konflik, jelaskan semuanya, kemudian sadarkan publik.Al-Ghazali akan mengatakan luruskan niat, kendalikan nafsu dan tenangkan hati.

banner 970x250 banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *