TERNATE,HP—Di balik gemerlap ring tinju Indonesia, ada satu nama yang kini jarang disebut, namun pernah mengibarkan Merah Putih dengan gagah di kancah Asia Tenggara — Hamdani Tomagola, atau akrab disapa Dani, sang juara dari Ternate.
Akar dari Keluarga Bola
Dani lahir dari keluarga sederhana yang berjiwa olahraga. Ayahnya, Abdurahman Tomagola, adalah mantan pemain sepak bola yang kemudian menjadi wasit, sementara ibunya, Onya Gani, seorang ibu penuh kasih yang membesarkan lima anaknya dengan ketulusan.
Dani adalah anak ketiga. Dua kakaknya perempuan, sementara adiknya yang bungsu, Rizal Tomagola, kelak dikenal sebagai salah satu gelandang serang terbaik Persiter Ternate.
Tak heran bila sejak kecil Dani akrab dengan lapangan bola. Ia bermain untuk klub Sinar Utara, beberapa kali menjadi pencetak gol terbanyak di turnamen antar sekolah, dan sempat ikut seleksi tim Soeratin. Namun hidupnya berbelok arah ketika sahabatnya, Heri, mengajaknya ke dunia tinju.
Dari Lapangan Hijau ke Atas Ring
Heri, adik kandung petinju nasional Noce Lukman, adalah teman sepermainan sekaligus “partner duel” Dani semasa remaja. Ia sudah berlatih di Kie Raha Boxing Camp milik Frice Soleman dan terpilih bergabung dalam Pusdiklat Tinju Karang Panjang Ambon. Heri bersedia berangkat ke Ambon dengan satu syarat: Dani harus ikut.
Meski belum pernah berlatih tinju, Dani menerima tantangan itu. Ia meminta restu dari sang ayah, yang hanya berpesan satu hal: “Jangan putus sekolah.”
Dengan tekad membara dan keberanian khas anak muda, Dani pun berangkat ke Ambon — menjemput takdir yang akan mengubah hidupnya.
Menempa Diri di Karang Panjang
Di Ambon, Dani melanjutkan sekolah di SMP 1 Ambon dan kemudian di STM Kudamati. Ia berlatih bersama para petinju besar seperti Nico Thomas, Apeles Letty, Albert Papilaya, dan Jopie Akywen, di bawah asuhan pelatih legendaris Wiem Gomies dan Otje Tehupeiory.
Awalnya Dani hanya dijadikan sparring partner bagi para senior. Tubuhnya babak belur hampir setiap hari. Namun semangatnya tak pernah padam. “Tinju adalah cara saya membuktikan diri,” katanya suatu kali.
Dari Kejurnas ke Pelatnas
Tahun 1986, Dani mewakili Maluku di Kejurnas Junior Bandung, dan langsung melaju ke final, meski akhirnya kalah dari Jhon Maitimu. Setahun kemudian, di Kejurnas Mataram, ia membalas dengan merebut medali emas. Pada Kejurnas 1988 di Padang, Dani naik kelas ke 51 kg dan kembali menjadi juara. Namanya mulai diperhitungkan secara nasional.
Ia lalu tampil di Pra PON 1989 dan PON Jakarta, meraih medali perak setelah dikalahkan Herry Maitimu, petinju asal Maluku yang mewakili Jambi. Kekalahan itu tak membuatnya menyerah — justru menyalakan tekadnya.
Merah Putih di Dada
Setelah PON, Dani dipanggil ke Pelatnas untuk persiapan Sea Games Malaysia 1989. Di Kuala Lumpur, ia menyumbang medali perunggu untuk Indonesia. Dua tahun kemudian, di Sea Games Manila 1991, ia meraih perak setelah dikalahkan petinju Thailand, Vichairachanon Khadpo.
Tahun 1992, Dani mengikuti Asian Games Beijing usai menjalani pelatihan di Jerman bersama pelatih asal Jerman Timur, Helmut Kruger — sosok yang sangat ia kagumi karena disiplin dan metode latihannya yang keras namun efektif.
Meski hanya mencapai perempatfinal, pengalaman itu membentuknya menjadi petinju matang dan tangguh.
Puncak Kejayaan
Tahun 1993, di Sea Games Singapura, Dani mencapai puncak kariernya. Setelah melewati persiapan panjang, ia menumbangkan petinju Thailand di partai final dan mempersembahkan medali emas pertama untuk Indonesia di kelas terbang.
Emas itu melengkapi koleksi medali perunggu dan perak yang sebelumnya ia raih.
Dani mengenang masa itu dengan bangga:
“Saya dapat bonus Rp 40 juta dan diterima langsung oleh Presiden Soeharto di Bina Graha. Itu momen yang tak akan saya lupakan.”
Di Ternate, keluarganya merayakan kemenangan itu dengan sukacita. Sang adik, Rizal, bahkan memakai jaket kontingen Indonesia milik kakaknya ke mana-mana — simbol kebanggaan keluarga Tomagola.
Dari Ring Internasional ke Jalanan Ternate
Usai masa kejayaan di ring amatir, Dani beralih ke tinju profesional pada 1998. Ia sempat berlaga di PABA Thailand, Intercontinental Cup Australia, hingga tampil dalam partai tambahan di New York. Namun setelah dua tahun, ia memilih pulang kampung ketika Gubernur Thaib Armaiyn memintanya kembali ke Ternate untuk membangun sasana tinju.
Sayangnya, janji itu tak pernah terwujud.
Lima tahun hidup di Ternate tanpa pekerjaan tetap membuatnya nyaris tenggelam dalam kesunyian. Hingga akhirnya, Wali Kota Ternate Syamsir Andili memintanya menjadi sopir pribadi selama masa kampanye Pilwako 2005. Setelah Syamsir terpilih kembali, Dani diangkat sebagai pegawai di Dinas Perhubungan, dan kemudian menjadi PNS.
Mimpi yang Belum Padam
Dani bercerita tentang mimpinya: memiliki sasana tinju sendiri untuk melatih anak-anak muda.
> “Kita punya banyak potensi hebat, tapi pemerintah tak peduli. Banyak sasana tak terurus, atlet berjuang sendirian,” keluhnya.
Nama-nama besar seperti Albert Papilaya, Willem Papilaya, Rico Maspaitella, Derek Paat, Noce Lukman, hingga Mudafar Dano pernah lahir dari tanah ini. Namun generasi penerus mereka kini berjuang tanpa dukungan berarti.
Cerita Sunan Agung Amoragam — peraih perunggu Asian Games 2018 — dan Diandra Ariesta Pieter, juara Sea Games Vietnam 2021 dan Kamboja 2023, yang pulang tanpa sambutan, menjadi cermin getir dari nasib atlet daerah.
Refleksi : Tentang Kehormatan
Kisah Hamdani Tomagola bukan sekadar catatan sejarah olahraga. Ia adalah cermin tentang bagaimana negeri ini sering melupakan para pahlawan yang berjuang tanpa pamrih.
Seperti kata legenda Filipina, Manny Pacquiao:
“Ini bukan tentang materi. Ini tentang kehormatan yang saya bawa untuk negara.”
Dani telah membawa kehormatan itu. Tapi sayangnya, negeri yang ia bela tampaknya lupa memberi hormat kembali.(red)












